Friendship

Friendship

Jumat, 21 November 2014

Puisi Aku, Senja dan Sebuah Cinta



Puisi ini ditulis saat kegalauan terjadi. hahaha. selamat membaca.
 
Aku, Senja, dan Sebuah Cinta

Sebuah ingatan di masa lalu.
Sebuah cerita yang tak kunjung henti.
Berputar di pikiranku dan mulai meracuniku.
Tentang Aku, Senja, dan orang yang kucinta.
Senja..
Engkau hadir.
Menandakan hari ini telah berakhir.
Semua mimpi telah kembali.
Dan malampun akan segara datang.
Tak ada yang indah dari sebuah senja.
Itu menurutku.
Namun entah mengapa senja hari ini terasa berbeda.
Untuk pertama kalinya aku melihat senja yang lain.
Senja, yang bisa membuatku tak berhenti menatapnya.
Aku menikmati di setiap warna jingganya.
Sebuah gadis bermata senja berdiri diatas dermaga.
Dimatamu aku melihat senja.
Dipandanganku senjamu memiliki spektrum cahaya yang tak ada di senja-senja lainnya.
Senja,,
Menuntutku untuk terus setia, menantimu diatas dermaga.
Senja mengajarkan aku untuk bertahan.
Bertahan berdiri di sini sampai kau melihatku dan menyadarinya.
Senja juga memberikan aku cinta.
Cinta berwarna Jingga bukan merah muda,
Dan senja menawankku dalam diam.
Meski cinta sering membunyikannya
Adinda, aku tak pernah tau nama aslimu.
Aku tak pernah benar-benar mengenalmu.
Karena untuk mendekatimu saja aku tak berani.
Setelah berhari-hari menjadi pemuja rahasiamu aku sadar.
Bahwa kau takkan pernah melihatku di sini.
Sampai suatu saat aku melihatmu.
Bersama yang lain.
Dengan seorang pria gagah yang berpakaian militer baru turun dari kapal nan megah.
Ia mencium keningmu dan kau mencium tangannya.
Yang kemudian aku tau bahwa itu suamimu yang tugas diluar kota.
Adinda,
Sekarang aku tau mengapa kau tak pernah menyadari bahwa ada yang selalu melihatmu dari sini
Karena tatapanmu sudah dimiliki suamimu.
Meski dikhianati senja dan hatiku hancur karenanya.
Aku tak pernah membenci senja.
Karena Senja telah mengajarkan aku bahwa aku dan kau takkan pernah bisa bertemu.
Aku seperti Matahari dan kau Bulan.
Sampai kapanpun kita tak akan pernah bisa bersama.
Dan senja.
Senja memberikan ku kesempatan untuk sedikit melihatmu meski sesaat.
Terimakasih Senja.
Terimakasih Jingga.
Terimakasih Cinta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar