Puisi ini ditulis saat kegalauan terjadi. hahaha. selamat membaca.
Aku, Senja, dan
Sebuah Cinta
Sebuah ingatan di masa lalu.
Sebuah cerita yang tak
kunjung henti.
Berputar di pikiranku
dan mulai meracuniku.
Tentang Aku, Senja, dan
orang yang kucinta.
Senja..
Engkau hadir.
Menandakan hari ini
telah berakhir.
Semua mimpi telah
kembali.
Dan malampun akan
segara datang.
Tak ada yang indah dari
sebuah senja.
Itu menurutku.
Namun entah mengapa
senja hari ini terasa berbeda.
Untuk pertama kalinya
aku melihat senja yang lain.
Senja, yang bisa
membuatku tak berhenti menatapnya.
Aku menikmati di setiap
warna jingganya.
Sebuah gadis bermata
senja berdiri diatas dermaga.
Dimatamu aku melihat
senja.
Dipandanganku senjamu
memiliki spektrum cahaya yang tak ada di senja-senja lainnya.
Senja,,
Menuntutku untuk terus
setia, menantimu diatas dermaga.
Senja mengajarkan aku
untuk bertahan.
Bertahan berdiri di
sini sampai kau melihatku dan menyadarinya.
Senja juga memberikan
aku cinta.
Cinta berwarna Jingga
bukan merah muda,
Dan senja menawankku
dalam diam.
Meski cinta sering
membunyikannya
Adinda, aku tak pernah
tau nama aslimu.
Aku tak pernah benar-benar
mengenalmu.
Karena untuk
mendekatimu saja aku tak berani.
Setelah berhari-hari
menjadi pemuja rahasiamu aku sadar.
Bahwa kau takkan pernah
melihatku di sini.
Sampai suatu saat aku
melihatmu.
Bersama yang lain.
Dengan seorang pria
gagah yang berpakaian militer baru turun dari kapal nan megah.
Ia mencium keningmu dan
kau mencium tangannya.
Yang kemudian aku tau
bahwa itu suamimu yang tugas diluar kota.
Adinda,
Sekarang aku tau
mengapa kau tak pernah menyadari bahwa ada yang selalu melihatmu dari sini
Karena tatapanmu sudah
dimiliki suamimu.
Meski dikhianati senja
dan hatiku hancur karenanya.
Aku tak pernah membenci
senja.
Karena Senja telah
mengajarkan aku bahwa aku dan kau takkan pernah bisa bertemu.
Aku seperti Matahari
dan kau Bulan.
Sampai kapanpun kita
tak akan pernah bisa bersama.
Dan senja.
Senja memberikan ku
kesempatan untuk sedikit melihatmu meski sesaat.
Terimakasih Senja.
Terimakasih Jingga.
Terimakasih Cinta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar