Tiket
Bioskop dan Sebuah Cerita.
Hari ini Bandung terasa dingin dari biasanya. Entah
karena suhunya yang sedang rendah atau kemampuan adaptasiku yang sudah terbiasa
cuaca di kota Bogor yang sangat panas. Dan tak seperti biasanya aku merasa
nyaman dengan jaketku di sore hari ini. Aku terus melangkah semakin
meninggalkan terminal Leuwi Panjang dan menuju ke tempat persimpangan jalan
tempat ayahku biasa menjemputku.
Namaku Danu Hadi Wijaya seorang mahasiswa pertanian yang
sedang menuntut ilmu di Institut Pertanian Bogor. Tepat Dua Tahun hidup di
tanah perantauan Bogor. Dan hari ini libur dimulai dan selama se bulan ke depan
aku kembali tinggal di rumah tercinta. Dari kejauhan aku sudah bisa menduga
sosok ayahku dari belakang sudah menunggu.
“Ayah.”
Seruku. Ayahku berbalik. Tepat sekali itu ayahku. Sedikit berjalan cepat ku
hampir ayahku. Setelah sedikit berbincang-bincang kamipun bergerak meninggalkan
terminal.
“Hi. Bu.” Seruku saat Ibuku membukakan pintu rumah.
Langsung kucium tangannya. Suasana rumah yang sangat kurindukan ini mulai
menyeruak. Rumah yang selalu dingin jika diluar panas dan terasa hangat jika
keadaan diluar dingin. Ayah dan Ibu tampak ingin tau keadaan ku yang sudah
beberapa bulan ini tidak pulang. Mulai dari pernyataan ringan seperti
“Bagaimana keadaanmu?” sampai pertanyaan serius. “Gimana kuliahmu? Bagaimana
ujiaannya? Berapa IP mu semester ini?”. Semua dapat kujawab dan sesekali
diiringi tawan ketika ada beberapa hal konyol yang kulakukan.
Handuk masih menempel dikepalaku. Tak ada perubahan letak
isi dalam kamarku kecuali isi lemari baju yang sedikit berkurang, karena
sebagian isinya telah berpindah tempat. Kertas-kertas kecil jatuh saat aku
menarik baju favoritku yang terletak paling bawah ditumpukan baju-baju itu. Aku
tersenyum saat mengambil satu persatu kertas-kertas itu. Memang sudah
kebiasaanku mengumpulkan tiket-tiket bioskop setelah menontonnya dan diselipkan
di bawah tumpukan baju. Dan tak kuduga tiket-tiket ini masih tersimpan di
tempatnya.
Satu persatu kubaca dan kuingat kejadian-kejadian dan
dengan siapa aku menonton film-film ini. Beberapa masih terbaca jelas namun
sebagian sudah agak memudar tulisan-tulisannya. Tayangan flashback satu-persatu
juga mulai bergentayangan di pikiranku dan tak terasa aku sudah
tersenyum-senyum sendiri. Namun senyum itu terhenti saat aku memegang sebuah
tiket bioskop yang dibelakang tiket itu tertulis sesuatu. Judul dan tanggal
film itu masih bisa terbaca dan kali ini pikiranku kembali mengingat seorang
wanita yang langsung teringat ketika melihat tiket yang spesial ini.
Seorang cewek mendekatiku dengan wajah merah dan banyak
tetesan air mata di pipinya.
“Aku
tau semua ini pasti ulah kamu. Aku nggak tau kenapa kamu jahat sama aku. Salah
aku apa?” katanya tepat di bangkuku. Semua anak melihat kearahku. Aku hanya
terdiam karena memang semua itu kejahilan ku. Nama cewek itu Sari. Sari kini
kembali ke tempat duduknya. Teman sebangkunya (Ayu) melihat ke arahku dengan
tatapan membunuh sambil berusaha membantu Sari membersihkan roknya dari noda
TipeX. Sampai saat ini aku juga bingung. Mengapa dulu aku sejahat itu. Padahal
aku termasuk anak baik-baik dan tak pernah berkelahi. Teman-temanku Adi dan
Andre hanya saling menatap. Saat itu aku berada di kelas 8.
Hari terus berganti dan Sari sudah bisa memaafkan ku.
Bahkan kami sering sekelompok dalam beberapa mata pelajaran. Dan ini membuat
kami semakin dekat. Apalagi setelah Andre dan Ayu berpacaran. Ini membuat dua
kubu semakin dekat. Kami sering makan di kantin bersama. Semua ini bertahan
sampai kami naik kelas 9 dan kami semua berpisah kelas. Karena di sekolah kami
setiap tahun atau setiap kenaikan kelas susunan muridnya akan diacak. Aku dan
Sari pun jarang ketemu apalagi kini statusku berpacaran dengan teman sekelas
yang dari SD sudah kusukai. Namun kami tak berpisah begitu saja karena Andre
dan Ayu yang masih berstatus pacaran selalu mengajak kami semua untuk
jalan-jalan di mall.
Sampai satu hari putih-abu sudah melekat di tubuhku.Sari
memilih melanjutkan di SMK dan Aku sendiri melanjutkan sekolah di SMA. Masa SMA
adalah masa yang paling indah, itu benar. Sudah lama aku tak bertemu Sari dan
kebetulan ada Film yang kutunggu-tunggu kini sudah hadir di bioskop, aku
mengajaknya nonton berdua. Ya berdua, aku sudah mengumpulkan uang untuk kencan
hari itu. Kami bercerita sepanjang kami jalan-jalan.
“Jadi sekarang kamu belum punya pacar?” tanya sari saat
kami sedang duduk berdua di foodcourt di salah satu mall di jatinangor.
Aku hanya bisa menggeleng. “Masa sih?” tanyanya lagi.
“Seriusan. Memangnya kenapa?” tanyaku heran.
“Hmm, nggak. Tumben aja kamu jomblo. Hahaha.” Tawanya
puas banget.
“Huuu.”
“Lagian aku mau fokus belajar dulu tau.” Kataku sambil
mencolek hidungnya.
“Eits. Jangan pegang-pegang. Udah ada yang punya nih.”
“Iya tau deh yang punya pacar.” Sari hanya menyeringai.
Tak lama makanan kami datang.
Sebenarnya di hati ini aku memiliki perasaan pada Sari.
Jujur. Tapi aku takut. Karena persahabatan kita ini sudah terlalu dekat. Aku
tak tau perasaan sayang yang aku rasakan ini apakah rasa cinta atau hanya
karena persahabatan kita. Pikirku dalam hati sambil melihat Sari.
“Nu, kamu nggak apa-apa?.” tanya Sari mengagetkanku. Aku
hanya menggeleng dan tersenyum kemudian menyantap makanan. Ada kerutan dahi di
wajah Sari.
“Lihat ada cicak lagi tepuk tangan?” alihku.
“Mana bisa cicak tepuktangan jatuhlah.” Kata Sari sambil
tertawa. Sial salah lagi pikirku.
“Nu.”
“Hmm.”
“Makasih yah.”
“For What?”
“Udah ngajak jalan aku. Udah bikin aku ketawa seharian.”
“Stttt.” Kataku memotong. “Sama-sama.” Sambil menatap
wajahnya. Sial. Jantungku berdegup lagi. Semoga nggak kedengaran sama Sari.
Sari tampak mengeluarkan sesuatu dari tasnya. “Ouh iya.
Aku mau kamu menyimpan ini.” Katanya sambil mengeluarkan tiket bioskop yang
baru kami tonton. Melihat wajahku yang kebingungan Sari kembali menjelaskan.
“Aku tau mungkin ini nggak berguna untuk saat ini. Tapi
setidaknya suatu saat tiket ini akan mengingatkan kalau kamu pernah punya teman
yang namanya Sari.”
Aku tersenyum. “Akan kusimpan baik-baik sar. Lagian aku
nggak pernah melupakan kamu kok. Kita kan sahabat.” Kataku sambil memberikan
jari kelingking.
“Sahabat.” Saripun melakukan hal yang sama.
Setahun telah berlalu.
Hari
ini aku merasa ada sesuatu hal yang berbeda dari diriku. Entah mengapa terasa
indah. Seperti ada bunga-bunga bertaburan. Kalau ini FTV mungkin akan banyak
bunga dan daun yang berguguran. Ya seperti yang orang bilang, Aku sedang jatuh
hati. Aku menyukai teman sekelasku sendiri. Namanya Manda. Ia tepat duduk
didepan bangkuku. Dan membuat hari-hari selanjutnya terasa berbeda. Rasa ini
terlalu rumit. Lebih rumit dari rumus-rumus ikatan kimia. Sulit diterjemahkan
ke dalam rumus fisika. Dan susah untuk dikatakan ke dalam bahasa biologi.
Setiap
hari kami terasa dekat. Dan kedekatan ini sudah tercium oleh teman-teman
sekelas. Karena kami sering satu kelompok dalam setiap momen pelajaran. Hatiku
tak lagi sepi karena ada sesuatu yang mengisinya. Rasanya indah sekali. Seperti
ada sesuatu kekuatan tersendiri.
“Manda.”
Seruku. Manda membalikkan badannya. Aku mendekatinya.
“Sendirian
aja? Bareng yuk.” Kataku.
“Boleh.”
Jawab Manda yang langsung membuatku semakin girang. Inilah awal aku dan Manda
menjadi sering pulang bareng. Dengan hati yang berbunga aku senderkan tubuhku
di kursi saat ku sampai di rumah. Memandang langit-langit sambil tersenyum sendiri.
Aku sudah gila sepertinya. Tak lama handphone ku bergetar dengan cepat aku
angkat. Siapa tau Manda. Masa baru saja ketemu sudah kangen lagi sih. Pikirku.
“Halo.
Selamat sore.”
“Sore. Hi Danu. Apa kabar? Tumben nggak bawel.”
Tunggu,
ini bukan suara Manda. aku segera mengecek nomor yang masuk dan langsung
mengagetkan aku. Saro.
“Halo. Nu.”
“Eh
iya Baik. Hahaha. Kamu gimana kabarnya?”
“Agak
kurang baik.” Tiba-tiba hening. “Nu, ada yang ingin aku katakan sama kamu.” Lanjut
Sari.
Aku
langsung memperbaiki sikap dudukku. Sepertinya Sari lagi serius. “Apa?”
“Sebenarnya
aku.” Hening lagi. “Tapi kamu jangan ketawa yah?”
“Iya.
Janji.” Hatiku tiba-tiba berdebar. Nggak kaya biasanya pikirku.
“Sebenarnya.
Aku.” Terdengar Sari mengambil nafas panjang.
“Aku
sayang sama kamu. Aku memang bodoh nu. Sudah lama aku menyimpannya tapi baru
sekarang aku bisa bilang ini.”
Saat
itu aku terhenyak diam. Tak bisa berkata apapun. Ada rasa bahagia dalam hatiku.
Namun ada cinta lain yang sedang bersemi. Aku bingung untuk mengatakan apapun.
“Nu,
Danu. Kamu masih disanakan?”
“Ehh.
Iya. Hmm. Kenapa?”
“Kenapa?”
tanyanya lagi.
“Kenapa
kamu sayang sama aku?” pertanyaan ini tiba-tiba terlontar begitu saja.
“Karena
kamu itu baik, manis, lucu, dan bikin aku nyaman kalau ada disamping kamu. Tapi
aku ngomong kaya gini bukan bermaksud untuk nembak kamu. Aku hanya
mengungkapkan saja. Aku juga kurang yakin apakah aku cinta kamu atau hanya
sayang. Aku juga nggak paham mu, soalnya aku juga...”
“Sar.”
Kataku memotong dan Saripun terdiam.
“Makasih
karena kamu udah Jujur sama aku.”
“Sama-sama.
Fiuh aku sekarang udah tenang. Ouh iya gimana sekolahmu?” suara Sari kini
berubah ceria kembali
Bla,
bla, kamipun mengobrol panjang. Rasanya sudah lama sekali kami tak bertegur
sapa dan curhat seperti ini.
“Bye.”
“Bye.”
Aku
menutup telponku. Dan terduduk didepan meja belajar. Apa artinya semua ini.
Kenapa? Kenapa aku nggak bilang juga “Aku Sayang Kamu juga sar.” Aku menatap
sebuah foto disudut meja. Dan terdiam untuk beberapa waktu yang lama. Sejak
lama? Sayang? Tapi kenapa baru sekarang.
“Nu,
Danu.” Mamah menepukku dan membuatku sedikit tersentak.
“Eh,
eh iya. Kenapa, mah?”
“Kamu
nggak apa-apa? ? Kok wajah kamu lecek amat kaya kembalian ojeg.”
“Buset
dah mah. Hahaha. Nggak apa-apa kok mah.” Ibuku sukses membuatku tertawa
terbahak-bahak.
“Ayo
makan. Mamah udah masakin masakan kesukaanmu.” Rayu ibuku. Aku mengikutinya
dari belakang.
Hari-hari
selanjutnya aku dan Sari mengobrol seperti biasa. Dan kalian tau Aku dan Manda
kini sudah berpacaran. Setiap hari kami selalu berkomunikasi. Ini membuat
hubungan Aku dan Sari menjadi sedikit renggang. Bahkan kami tak pernah lagi SMS
apalagi ketemuan. Mungkin Sari sibuk. Begitupula. Karena terakhir ku telepon dia,
dia sudah memiliki pacar. Dan in terjadi selama berbulan-bulan. Tunggu.
Hubungan ku dan Manda ternyata hanya bertahan dua bulan. Entah apa yang membuat
Manda memutuskan ku begitu saja. Bahkan sampai saat ini aku tak pernah tau
alasannya. Ingin rasanya kuceritakan semua pada Sari dan berbagi kesedihan.
Tapi aku seperti terlihat egois. Setelah lama nggak komunikasi sekarang aku
datang tiba-tiba dan berbagi kesedihan. Akhirnya kuurungkan niat untuk menelpon
Sari. Dengan hati yang kosong aku berjalan ke arah perpustakaan mencari suasana
baru disana. Karena jika dikelas aku akan bertemu dengan Manda. Rasanya nggak
enak dan menyakitkan.
“Danu.”
Teriak seorang wanita dari dalam kelas ketika aku sedang berjalan di koridor
sekolah. Aku berbalik.
“Nu.”
Kata Ayu mendekat.
“Kamu
udah tau sesuatu?” tanyanya. Aku semakin bingung. Aku hanya bisa menggeleng.
“Sari.”
Ayu terdiam sejenak. Aku semakin mengerutkan dahi bingung.
“Sari.
Dia besok tunangan.” Semua kata-kata itu langsung membuatku membisu. Aku
sedikit tercengang. Rasanya seperti ditonjok. Perutku mendadak mual.
“Nu.
Emm kamu mau datang?” tanya Ayu kepadaku sambil keheranan melihat ekspresiku
yang berubah.
“Eh,
anu. Aku ada acara keluarga. Sorry. Kayanya nggak bisa datang.” Kataku dengan
nada sok menyesal.
“Ouh.
Oke kalau begitu.” Kata Ayu terlihat kecewa. “Bye.” Ia berbalik hendak kembali
ke kelasnya.
“Yu,”
seruku. Ayu kemudian kebalikan badannya lagi menatapku. “Titip salam yah buat
Sari.”
“Oke.”
Jawabnya.
Mood
ku hilang seketika. Semua pertanyaan menghantui ku sepanjang perjalanan. Menurutku
semua ini terlalu cepat. Mengapa dia memutuskan untuk cepat tunangan? Siapa
calonnya?. Arghhh sial. Kujatuhkan tubuhku diatas kasur dan tertidur.
Kenangan-kenangan
itu seketika berhenti. Dan aku telah kembali kedunia setelah beberapa menit
berlari ke masa lalu. Setelah cukup sadar, ku bereskan semua kepingan-kepingan
masa lalu ke dalam sebuah kotak kecil dibawah meja. Aku mau ke bioskop pikirku.
Segera kukenakan baju dan pergi sendirian ke mall dekat rumah. Tempat semua
kenangan itu ada disana.
Lampu
Teater 4 sudah kembali menyala dan film pun sudah selesai. Layar didepan sedang
menayangkan slide cast dan semua orang-orang yang yang terlibat dalam pembuatan
film itu. Aku keluar dan sedikit bengong. Dan bayangan-bayangan itu hadir
kembali. Aku melihat seorang anak cowok dan cewek sedang asyik membicarakan
film yang baru saja ditonton sambil ketawa bahagia. Mirip seperti yang
kulakukan dulu.
Dari
semua kerumunan orang ini aku tiba-tiba melihat seseorang. Yang membuatku
mempercepat langkah untuk mengejarnya. Ya itu dia. Sialnya aku kalah cepat. Aku
kehilangan jejaknya di dekat pojokkan mall dekat WC. Aku terdiam sambil
mata-mataku mencari siapa tau aku bisa melihatnya dari arah sini. Dan tak lama
aku mujur lagi. Wanita itu berjalan didepanku baru keluar dari WC.
Dengan
sedikit ragu aku memnggilnya. “Sari?” wanita itu berbalik. Dengan wajah heran
dia berusaha mengenaliku. Aku hanya tersenyum kala tebakan kubenar.
“Hi
Danu.” Katanya sedikit ragu.
“Apa
kabar?” tanyaku
“Baik.
Kamu?”
“Baik.
Lagi ngapain di sini?” tanyaku lagi. Sari terlihat sedikit lebih berisi. Dia
sudah terlihat dewasa.
“Lagi nganterin anak main. Kamu juga ngapain
di sini?”
“Lagi
mengingat semua kenangan kita.”
“Hah.
Maksudnya?”
“Eh
anu. Nggak lagi nganterin mamah belanja. Hehe.” Kataku salah tingkah. Padahal
kenyataanya aku pergi sendirian.
“Ouh.”
“Mamah.”
Teriak seorang anak kecil agak jauh dari kami. Anak itu sedang digandeng oleh
seorang pria. Sari melambaikan tangan.
“Itu
anakku. Dan itu suamiku” Kata sari kepadaku. Aku memang tak pernah kenal dengan
suami Sari. Aku hanya melihat foto pernikahan mereka di faceboook. Karena saat
mereka menikah aku sudah tinggal di Bogor.
“Ouh
iya aku pergi dulu yah. Bye.” Katanya berjalan menuju karah anaknya.
Dalam hatiku mengatakan aku harus bilang sekarang.
Kesempatan ini nggak akan datang lagi. Sampai kapan aku akan terus terjebak
dikondisi ini. Aku harus keluar.
“Sar.” Seruku. Dan membuat langkah Sari berhenti dan
berbalik setelah beberapa langkah berjalan.
“Maaf. Kalau baru sekarang aku bisa mengatakan ini.”
Dengan tarikan nafas panjang. “Sebenarnya waktu kamu bilang sayang sama aku.
Aku juga sayang sama kamu. Tapi aku terlalu gengsi untuk mengatakannya. Maaf.”
Secepat kilat aku katakan. Kemudian berjalan ke arah berlawanan.
“Nu.”
Langkahku berhenti. Aku berbalik. Aku melihatnya
meneteskan air mata.
“Makasih. Makasih buat semuanya. Makasih telah mennjadi
sahabat terbaikku.”
Aku tersenyum. “Sama-sama, sahabat.”
“Mamah.” Teriak lagi anak kecil disana.
Sari tampak menghapus air matanya. Ia berjalan ke arah
anak dan suaminya. Semua kenangan itu kini ikut membayanginya. Aku terus
melihat sosok tubuhnya. Sari yang aku kenal sejak SMP kini telah dewasa dan
sudah menjadi ibu. Sari nampak melihat kembali kearahku dan tersenyum. Aku pun
membalas senyumnya. Fiuhh. Aku mearik nafas panjang. Dan sekarang sekarang
hatiku sudah semakin lega. Tuhan bantu aku untuk menemukan keluarga kecilku
kelak. Selamat tinggal masa remajaku. Selamat tinggal sahabatku. Sekarang kau
sudah menemukan kebahagiaan yang sempurna bersama keluarga kecilmu.
Kisah
ini hanya akan menjadi sebuah kenangan indah di masa depanku. Tentang sebuah
persahabatan yang tak kunjung henti, sebuah cinta yang nggak pernah diucapkan,
dan sebuah tiket bioskop yang bisa menguatkan sebuah pengakuan. Memang benar bagi
sebagian orang barang-barang masa lalu itu nggak penting dan malah membuat kita
nggak bisa move on. Tapi tidak menurutku semua itu sangatlah penting. Dimana
kita bakal bisa mengingat semua kejadian yang pernah ada. Sebuah sejarah yang
mungkin bisa membuat hidup kamu jadi berubah. Bahkan bisa jadi tentang sebuah
cerita cinta yang belum terungkap. Seperti tiket bioskop. Dimana semua orang
akan memiliki kenangan saat datang dan nonton di bioskop. Siapa yang
menemanimu? Teman, sahabat, atau bahkan orang yang sangat kau cintai. Pasti
akan membantumu mengingatnya dengan melihat tiket bioskop. Karena setiap barang
pasti akan lebih berharga jika memiliki history yang sangat berarti buat hidup
kamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar