Bintang dari Sejuta Bintang
“Hahaha”
teriak mereka. Aku hanya terdiam menatapnya. Ayahku, aku dan teman-temannya
sedang berkumpul di salah satu restaurant. Sebenarnya, aku malas mengikuti
acara ini, tetapi mau bagimana lagi ayahku yang memaksanya.
Namaku Cornelius Dimas. Biasa
dipanggil Dimas. Sekarang aku kuliah semester 1, jurusan pertanian, di Universitas
Wijaya. Aku tau pertanian bukanlah jurusan yang populer untuk abad 21 ini. Tapi
demi kecintaanku pada tumbuhan, desa, mencangkul, dan kawan-kawannya aku siap
menghadapi semua konsekuensinya. Setelah mendapat restu dari kedua orangtua aku
berangkat merantau nunjauh dari orangtua. Dan hari ini aku sedang libur ujian.
“Saya perkenalkan ini anak saya yang
pertama, Angga.” Seru Bapak gendut berbaju merah yang kuketahui bernama
Richard. Dia berbicara panjang lebar membanggakan anaknya. Anaknya adalah seorang
tentara.
“Wah
hebat sekali kau chad, gagah sekali anakmu. Nggak sia-sia kau mendidiknya, sampai
berhasil seperti ini. Perkenalkan ini anak saya namanya Frans. Dia sekarang kuliah di Fakultas Kedokteran.”
Kali ini Pak Remon yang berbicara. Meskipun tak terlihat ada unsur-unsur berbau
kebanggaan. Namun aku bisa melihat dijidatnya tertulis “LIHAT ANAKKU LEBIH
KEREN DARI ANAK KALIAN.”.
Kulihat
ayahku, ia hanya tersenyum mendengar cerita-cerita mereka. Tak lama mereka
bertanyasaat. “Anakmu kuliah dimana,gus?”
Dengan
santainya ayhaku menjawab “Dia mengambil jurusan Pertanian di Universitas
Wijaya.” Jawabnya. Aku dapat melihat wajah Pak Remon dan Pak Richard beserta
anak-anaknya menahan tawa. Aku agak kesal dengan sikap mereka.
“Apa?
Pertanian?” tanya Pak Richard mengulang. Seakan-akan ia ingin mengulang kata
yang terlalu rendah dibandingkan tentara atau dokter. Rasanya ada jurang
pemisah yang begitu kelam diantara kita. Mereka diatas gunung dan aku dibawah
lembah. Sekali lagi dijidatnya terbaca “MASA DEPAN SURAM.”
“Ia,
memang kenapa?” tanya ayahku polos. Aku hanya terdiam menahan ludah. Pasti
bakal ada badai el nino disini.
“Tidak
apa. Dimaskan pintar, kenapa tidak dikuliahkan di kedokteran saja. Kan nasibnya
lebih jelas.” Tutur Pak Remon dengan keangkuhannya. Apa? maksud NASIBNYA LEBIH JELAS. Darahku sudah
diubun-ubun. Ini sudah keterlaluan.
“Jangan-jangan
tidak sanggup membiayai Dimas” tambah Pak Richard sambil menaikan alis. Aku sudah geram, tak sadar kutarik
kerah baju Pak Richard. “Kalian bisa menghina aku tetapi tak bisa ku biarkan
kalau kalian menghina Ayahku.” Sambil tanganku menunjuk Pak Richard. Semua diam
tak berkutik. Pak Richard terlihat keringat dingin.
Setelah
el nino itu mulai mereda. Aku berdiri
dan menarik tangan Ayahku. Ia mengerti apa yang kumaksud. Aku melihat mereka
masih terdiam kaku di tempat duduknya.
“Satu
lagi Ayahku bisa membiayaiku kemanapun yang aku mau. Tapi dia tak pernah menjadikan
anaknya boneka yang selalu ditentukan hidupnya.” Seruku tajam, menusuk, dan
dalam. Mungkin jika mataku bisa mengeluarkan pisau mereka sudah mati dari tadi.
Setelah peristiwa yang kusebut el nino di restaurant itu. Aku sering
diam di depan teras rumah. Sama seperti yang aku lakukan malam ini.
“Kamu,
kenapa belum tidur,nak?”
Aku
menoleh dan melihat Ayahku dengan sarungnya sedang berdiri lalu duduk
disampingku.
“Belum
mengantuk,Pak.” Jawabku.
“Kamu
melamunkan apa?” tanyanya lagi seolah-olah dia telah memperhatikanku dari tadi.
“Tidak
ada apa-apa,pak. Bapak sendiri mengapa belum tidur?.”
“Belum
mengantuk.” Jawabnya sambil tersenyum. Mungkin inilah contoh dari peribahasa
buah jatuh tidak jauh dari pohonnya kecuali disamping pohon ada sungai
tentunya.
“Masalah
peristiwa itu.” Terdiam sesaat. “Bapak sungguh takjub dengan yang kau lakukan.”
lanjutnya
Mendengarnya
hatiku langsung teduh dan leleh. Aku menatapnya berkaca-kaca.
“Tapi
caramu salah, nak.” Aku terdiam. Mulutku terkunci. Aku tau aku terlalu gegabah
dalam mengambil tindakan. Aku tau menjadi dokter atau tentara bisa lebih
membanggakan ayahku.
“Ayah
bangga dengan apa yang kau pilih. Nggak harus jadi tentara, polisi, dokter,
atau apapun yang dikatakan orang keren. Ayah selalu bangga dengan apa yang kau
pilih.”
“Aku
bukan pemuda yang bisa dibanggakan, pak. Di zaman modern seperti ini apa yang
bisa kulakukan demi pembangunan bangsa.” Kataku dengan berat hati. Ayah hanya
terdiam dan tersenyum.
“Pemuda
punya caranya sendiri untuk bisa membangun bangsa. Ia mempunyai potensinya
masing-masing. Coba kamu pikir jika semua orang memilih menjadi tentara, siapa
yang mengobati orang-orang sakit. Atau semua menjadi dokter, siapa yang memberi
makan orang-orang. Pemuda yang baik selalu tau dengan cara apa mereka bisa ikut
membangun bangsa dan ia tau apa yang dibutuhkan bangsa ini.” Ujarnya penuh
makna.
Aku tersenyum senang. Kata-katanya
begitu bermakna. Dibawah langit bintang, badai el nino itu menjadi sebuah pelangi cantik. Aku bagaikan bintang
yang bersinar diantar bintang yang terang. Meskipun aku kecil tetapi tanpa aku
bumi akan kehilangan 1% cahayanya. Bukankah 100% cahaya lebih baik dari 99%. Bagiku
Pemuda adalah Bintang, Cahaya adalah cara kita dalam membangun bangsa, dan Bumi
adalah bangsa ini. Apapun yang kau lakukan berilah yang terbaik untuk bangsa
ini. SELESAI
Minta commentnya ya.
thanks
thanks