Friendship

Friendship

Rabu, 06 Februari 2013

Cerpen Bintang Dari Sejuta Bintang


Bintang dari Sejuta Bintang
“Hahaha” teriak mereka. Aku hanya terdiam menatapnya. Ayahku, aku dan teman-temannya sedang berkumpul di salah satu restaurant. Sebenarnya, aku malas mengikuti acara ini, tetapi mau bagimana lagi ayahku yang memaksanya.
            Namaku Cornelius Dimas. Biasa dipanggil Dimas. Sekarang aku kuliah semester 1, jurusan pertanian, di Universitas Wijaya. Aku tau pertanian bukanlah jurusan yang populer untuk abad 21 ini. Tapi demi kecintaanku pada tumbuhan, desa, mencangkul, dan kawan-kawannya aku siap menghadapi semua konsekuensinya. Setelah mendapat restu dari kedua orangtua aku berangkat merantau nunjauh dari orangtua. Dan hari ini aku sedang libur ujian.
            “Saya perkenalkan ini anak saya yang pertama, Angga.” Seru Bapak gendut berbaju merah yang kuketahui bernama Richard. Dia berbicara panjang lebar membanggakan anaknya. Anaknya adalah seorang tentara.
“Wah hebat sekali kau chad, gagah sekali anakmu. Nggak sia-sia kau mendidiknya, sampai berhasil seperti ini. Perkenalkan ini anak saya namanya  Frans. Dia sekarang kuliah di Fakultas Kedokteran.” Kali ini Pak Remon yang berbicara. Meskipun tak terlihat ada unsur-unsur berbau kebanggaan. Namun aku bisa melihat dijidatnya tertulis “LIHAT ANAKKU LEBIH KEREN DARI ANAK KALIAN.”.
            Kulihat ayahku, ia hanya tersenyum mendengar cerita-cerita mereka. Tak lama mereka bertanyasaat. “Anakmu kuliah dimana,gus?”
Dengan santainya ayhaku menjawab “Dia mengambil jurusan Pertanian di Universitas Wijaya.” Jawabnya. Aku dapat melihat wajah Pak Remon dan Pak Richard beserta anak-anaknya menahan tawa. Aku agak kesal dengan sikap mereka.
“Apa? Pertanian?” tanya Pak Richard mengulang. Seakan-akan ia ingin mengulang kata yang terlalu rendah dibandingkan tentara atau dokter. Rasanya ada jurang pemisah yang begitu kelam diantara kita. Mereka diatas gunung dan aku dibawah lembah. Sekali lagi dijidatnya terbaca “MASA DEPAN SURAM.”
“Ia, memang kenapa?” tanya ayahku polos. Aku hanya terdiam menahan ludah. Pasti bakal ada badai el nino disini.
“Tidak apa. Dimaskan pintar, kenapa tidak dikuliahkan di kedokteran saja. Kan nasibnya lebih jelas.” Tutur Pak Remon dengan keangkuhannya. Apa?  maksud NASIBNYA LEBIH JELAS. Darahku sudah diubun-ubun. Ini sudah keterlaluan.
“Jangan-jangan tidak sanggup membiayai Dimas” tambah Pak Richard sambil menaikan alis.         Aku sudah geram, tak sadar kutarik kerah baju Pak Richard. “Kalian bisa menghina aku tetapi tak bisa ku biarkan kalau kalian menghina Ayahku.” Sambil tanganku menunjuk Pak Richard. Semua diam tak berkutik. Pak Richard terlihat keringat dingin.
Setelah el nino itu mulai mereda. Aku berdiri dan menarik tangan Ayahku. Ia mengerti apa yang kumaksud. Aku melihat mereka masih terdiam kaku di tempat duduknya.
“Satu lagi Ayahku bisa membiayaiku kemanapun yang aku mau. Tapi dia tak pernah menjadikan anaknya boneka yang selalu ditentukan hidupnya.” Seruku tajam, menusuk, dan dalam. Mungkin jika mataku bisa mengeluarkan pisau mereka sudah mati dari tadi.
            Setelah peristiwa yang kusebut el nino di restaurant itu. Aku sering diam di depan teras rumah. Sama seperti yang aku lakukan malam ini.
“Kamu, kenapa belum tidur,nak?”
Aku menoleh dan melihat Ayahku dengan sarungnya sedang berdiri lalu duduk disampingku.
“Belum mengantuk,Pak.” Jawabku.
“Kamu melamunkan apa?” tanyanya lagi seolah-olah dia telah memperhatikanku dari tadi.
“Tidak ada apa-apa,pak. Bapak sendiri mengapa belum tidur?.”
“Belum mengantuk.” Jawabnya sambil tersenyum. Mungkin inilah contoh dari peribahasa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya kecuali disamping pohon ada sungai tentunya.
“Masalah peristiwa itu.” Terdiam sesaat. “Bapak sungguh takjub dengan yang kau lakukan.” lanjutnya
Mendengarnya hatiku langsung teduh dan leleh. Aku menatapnya berkaca-kaca.
“Tapi caramu salah, nak.” Aku terdiam. Mulutku terkunci. Aku tau aku terlalu gegabah dalam mengambil tindakan. Aku tau menjadi dokter atau tentara bisa lebih membanggakan ayahku.
“Ayah bangga dengan apa yang kau pilih. Nggak harus jadi tentara, polisi, dokter, atau apapun yang dikatakan orang keren. Ayah selalu bangga dengan apa yang kau pilih.”
“Aku bukan pemuda yang bisa dibanggakan, pak. Di zaman modern seperti ini apa yang bisa kulakukan demi pembangunan bangsa.” Kataku dengan berat hati. Ayah hanya terdiam dan tersenyum.
“Pemuda punya caranya sendiri untuk bisa membangun bangsa. Ia mempunyai potensinya masing-masing. Coba kamu pikir jika semua orang memilih menjadi tentara, siapa yang mengobati orang-orang sakit. Atau semua menjadi dokter, siapa yang memberi makan orang-orang. Pemuda yang baik selalu tau dengan cara apa mereka bisa ikut membangun bangsa dan ia tau apa yang dibutuhkan bangsa ini.” Ujarnya penuh makna.
            Aku tersenyum senang. Kata-katanya begitu bermakna. Dibawah langit bintang, badai el nino itu menjadi sebuah pelangi cantik. Aku bagaikan bintang yang bersinar diantar bintang yang terang. Meskipun aku kecil tetapi tanpa aku bumi akan kehilangan 1% cahayanya. Bukankah 100% cahaya lebih baik dari 99%. Bagiku Pemuda adalah Bintang, Cahaya adalah cara kita dalam membangun bangsa, dan Bumi adalah bangsa ini. Apapun yang kau lakukan berilah yang terbaik untuk bangsa ini. SELESAI

Minta commentnya ya.
thanks

Tidak ada komentar:

Posting Komentar